1. DEFINISI INSTRUMENT PENELITIAN
Merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi yg bermanfaat utk menjawab permasalahan penelitian. Dalam penyusunan instrumen penelitian, harus disesuaikan dgn jenis data yang akan dikumpulkan.
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian disebut instrumen penelitian. Jadi instrument penelitian adalah segala peralatan yang digunakan untuk memperoleh, mengolah, dan mengintepretasikan informasi dari para responden yang dilakukan dengan pola pengukuran yang sama.
2. JENIS INSTRUMENT PENELITIAN
2.1 PENGAMATAN ( OBSERVASI )
Observasi merupakan suatu proses kompleks yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Observasi adalah melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian bersifat perilaku dan tindakan manusia, fenomena alam, proses kerja dan penggunaan responden kecil. Peneliti melakukan pengamatan langsung dengan cara tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara.
Bentuk observasi :
a. Observasi non sistematis (tanpa instrumen)
b. Observasi sistematis (ada instrumen)
Keuntungan
a. Dapat dicatat segera dan tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang
b. Dapat data walau subyek tidak dapat berkomunikasi
Kerugian
a. Waktu lama
b. Pengamatan terhadap fenomena yang lama tidak dapat langsung dilakukan
c. Ada kegiatan yang tidak mungkin diamati
2.2 WAWANCARA ( INTERVIEW )
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya dan lebih mendalam pada responden yang jumlah sedikit.
Macam wawancara :
a. Wawancara terpimpin ( pertanyaan diajukan menurut daftar yang diberikan )
b. Wawancara bebas terpimpin ( hanya membawa pedoman garis besar saja )
c. Wawancara bebas ( tanya jawab bebas namun pewawancara menggunakan tujuan sebagai pedoman )
Keuntungan
a. responden tidak merasa diwawancarai
Kelemahan
a. terkadang arah pertanyaan tidak terkendali Wawancara bukan hal yang mudah.
b. Pewawancara harus dapat menciptakan suasana santai tapi serius agar responden dapat menjawab secara jujur
2.3 ANGKET ( KUISIONER )
Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan responden. Di samping cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar, dan tersebar di wilayah yang luas.
Jenis angket :
a. Angket terbuka ( angket tidak berstruktur ) adalah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya.
b. Angket tertutup (angket berstruktur) adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan memberikan tanda silang (x) atau tanda check list (Ö). Check list atau daftar cek adalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang diamati.
2.4 TEST
Tes sebagai instrumen pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Macam tes :
a. Tes kepribadian (personal test).
b. Tes bakat (talent test).
c. Tes prestasi (pencapaian sesuatu)/(achievement test).
d. Tes intelegensi (tingkat intelektual).
e. Tes sikap (attitude test).
KEUNTUNGAN
a. Tidak perlu hadirnya peneliti
b. Dapat dibagikan serentak
c. Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatan & menurut waktu senggang responden
d. Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas, jujur & tidak malu-malu menjawab
e. Dapat dibuat terstandar
KERUGIAN
a. Responden sering tidak teliti dalam menjawab
b. Seringkali sulit dicari validitasnya
c. Terkadang responden tetap tidak jujur
d. Sering tidak kembali (lewat pos)
e. Waktu pengembalian tidak bersama-sama
3. LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT INSTRUMEN
1. mengindentifikasi variabel-variabel dalam rumusan judul penelitian.
2. menjabarkan variabel tersebut menjadi sub variabel/dimensi
3. mencari indikator/ aspek setiap sub variabel
4. menderetkan deskriptor dari setiap indikator
5. merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrumen
6. melengkapi instrumen dengan petunjuk pengisian dan kata pengantar.
4. UJI COBA INSTRUMENT
Ujicoba perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa baik kuesioner yang sudah dibuat. Artinya sebelum kuesioner benar-benar disebarkan perlu diujicobakan untuk mengetahui tingkat kesulitan, lamanya waktu, validitas dan reliabilitas variabel.
5. UJI VALIDITAS
1. Uji ini sebenarnya untuk melihat kelayakan butir-butir pertanyaan dalam kuesioner tersebut dapat mendefinisikan suatu variabel.
2. Daftar pertanyaan ini pada umumnya untuk mendukung suatu kelompok variabel tertentu.
3. Uji validitas dilakukan setiap butir soal. Hasilnya dibandingkan dengan r tabel | df=n-k dengan tingkat kesalahan 5%
4. Jika r tabel Jika r tabel < r hitung, maka butir soal disebut valid
6. UJI RELIABILITAS
1. Untuk menilai Kestabilan ukuran dan konsistensi responden dalam menjawab kuesioner. Kuesioner tsb mencerminkan konstruk sebagai dimensi suatu variabel yang disusun dalam bentuk pertanyaan
2. Uji reliabilitas dilakukan secara bersama-sama terhadap seluruh pertanyaan.
3. Jika nilai alpha>0.60, disebut reliabel
7. MANFAAT INSTRUMENT
1. Sebagai alat pencatat informasi yang disampaikan oleh responden
2. Sebagai alat untuk mengorganisasi proses wawancara
3. Sebagai alat evaluasi performa pekerjaan staf peneliti
8. SYARAT-SYARAT INSTRUMENT PENELITIAN
8.1 AKURASI
a. Akurasi dari suatu instrumen pada hakekatnya berkaitan erat dengan validitas (kesahihan) instrument tersebut.
b. Apakah instrumen benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur.
c. Apakah masukan yang diukur (measured) hanya terdiri dari masukan yang hendak diukur saja ataukah telah kemasuk-an unsur-unsur lain.
d. Pengontrolan yang ketat terhadap kemurnian masukan ini adalah sangat penting agar pengaruh luar dapat dieliminasi.
e. Kegagalan dalam pengontrolan ini akan menyebabkan menurunnya akurasi output atau validitas hasil pengukuran.
f. Validitas tentang apa yang hendak diukur disebut validitas kualitatif.
g. Instrumen dapat mengukur dengan cermat dalam batas yang hendak diukur, maka validitas yang diperoleh adalah validitas kuantitatif.
8.2 PRESISI
a. Presisi instrumen berkaitan erat dengan keterandalan (reliability), yaitu kemampuan memberikan kesesuaian hasil pada pengulangan pengukuran.
b. Instrumen mempunyai presisi yang baik jika dapat menjamin bahwa inputnya sama memberikan output yang selalu sama kapan saja, dimana saja, oleh dan kepada siapa saja instrumen ini digunakan memberikan hasil konsisiten (ajeg).
c. Instrumen dengan presisi yang baik belum tentu akurasinya baik dan sebaliknya.
d. Instrumen yang baik tentu yang akurasi dan presisinya baik.
8.3 KEPEKAAN
a. Penelitian yang ingin mengetahui adanya perubahan harga variabel tertentu membutuhkan instrumen yang dapat mendeteksi besarnya perubahan tersebut.
b. Makin kecil perubahan yang terjadi harus makin peka instrumen yang digunakan.
c. Sebagai ilustrasi :
Stopwatch dengan presisi 0,1 detik tidak dapat untuk mengukur kecepatan gerak refleks.
Penggaris dengan presisis 0,1 mm tidak dapat mendeteksi perubahan panjang ikatan dalam perubahan struktur molekul.
d. Dalam contoh tersebut kepekaan instrumen tidak memadahi.
e. Kepekaan berkaitan erat dengan validitas kuantitatif.
Rabu, 15 Juni 2011
instrumen penelitian
Diposting oleh elfrida prastiwi di 05.37askep katarak
Diposting oleh elfrida prastiwi di 05.36BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian katarak
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat air terjun.Jenis katarak yang paling sering ditemukan adalah katarak senilis dan katarak senilis ini merupakan proses degeneratif (kemunduran ). Perubahan yang terjadi bersamaan dengan presbiopi, tetapi disamping itu juga menjadi kuning warnanya dan keruh, yang akan mengganggu pembiasan cahaya.Walaupun disebut katarak senilis tetapi perubahan tadi dapat terjadi pada umur pertengahan, pada umur 70 tahun sebagian individu telah mengalami perubahan lensa walau mungkin hanya menyebabkan sedikit gangguan penglihatan.
1.2 Etiologi Katarak
a. Ketuaan ( Katarak Senilis )
b. Trauma
c. Penyakit mata lain ( Uveitis )
d. Penyakit sistemik (DM)
e. Defek kongenital ( salah satu kelainan herediter sebagai akibat dari infeksi virus prenatal, seperti German Measles )
1.3 Penyebab Katarak
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari 90% orang berusia di atas 65 tahun menderita katarak. Sekitar 550% orang berusia 75— 85 tahun daya penglihatannya berkurang akibat katarak. Walaupun sebenarnya dapat diobati, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.
Sayangnya, Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak. Katarak terjadi secara perlahan-perlahan sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur. karena umumnya katarak tumbuh sangat lambat dan tidak mempengaruhi daya penglihatan sejak awal. Daya penglihatan baru terpengaruh setelah katarak berkembang sekitar 3—5 tahun. Karena itu, pasien katarak biasanya menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis.
Pada awal serangan, penderita katarak merasa gatal-gatal pada mata, air matanya mudah keluar, pada malam hari penglihatan terganggu, dan tidak bisa menahan silau sinar matahari atau sinar lampu. Selanjutnya penderita akan melihat selaput seperti awan di depan penglihatannya. Awan yang menutupi lensa mata tersebut akhirnya semakin merapat dan menutup seluruh bagian mata. Bila sudah sampai tahap ini, penderita akan kehilangan peng¬lihatannya.
1.4 Patofisiologi Katarak
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan . Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan poterior nukleus. Opasitaspada kapsul poterior merupakan bentuk aktarak yang paling bermakna seperti kristal salju.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memaenjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak bisa terjaadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian trauma atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya proses penuaan yang normal. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan, alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama.
1.5 Manifestasi klinik
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi. Temuan objektif biasanya meliputi pengembunann seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pendangan menjadi kabur atau redup, mata silau yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih.
1.6 Pemeriksaan Diagnostik Katarak
a. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.
b. Lapang Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis, glukoma.
c. Pengukuran Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg)
d. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glukoma.
e. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glaukoma
f. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan.
g. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
h. EKG, kolesterol serum, lipid
i. Tes toleransi glukosa : kotrol DM
1.7 Penatalaksanaan Katarak
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif.
Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila visualisasi segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit retina atau sarf optikus, seperti diabetes dan glaukoma.
Ada 2 macam teknik pembedahan ;
Ekstraksi katarak intrakapsuler, adalah pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan.
Ekstraksi katarak ekstrakapsuler, merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98 % pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN KATARAK
2.1 Pengkajian Keperawatan Katarak
a. Identitas
Berisi nama, usia, jenis kelamin, alamat, dan keterangan lain mengenai identitas pasien. Pada pasien dengan katarak konginetal biasanya sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun, sedangakan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia < 40 tahun, pasien dengan katarak presenil terjadi pada usia sesudah 30-40 tahun, dan pasien dengan katark senilis terjadi pada usia > 40 tahun
b. Riwayat penyakit sekarang
Merupakan penjelasan dari keluhan utama. Misalnya yang sering terjadi pada pasien dengan katarak adalah penurunan ketajaman penglihatan.
c. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM, hipertensi, pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko katarak
d. .Aktifitas Istirahat
Perubahan aktifitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.
e. Neurosensori
Gangguan penglihatan kabur/tak jelas, sinar terang menyababkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa diruang gelap. Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi di sekitar sinar, perubahan kacamata, pengobatan tidak memperbaiki penglihatan, fotofobia ( glukoma akut ).
Tanda : Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak), pupil menyempit dan merah/mata keras dan kornea berawan (glukoma darurat, peningkatan air mata.
f. Nyeri / Kenyamanan
Ketidaknyamanan ringan / mata berair. Nyeri tiba-tiba / berat menetap atau tekanan pada atau sekitar mata, sakit kepala.
g. Pembelajaran / pengajaran.
Pada pengkajian klien dengan gangguan mata ( katarak ) kaji riwayat keluarga apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress, alergi, gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena, ketidakseimbangan endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin.
2.2 Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kehilangan vitreus, perdarahan intraokuler, peningkatan TIO ditandai dengan :
• Adanya tanda-tanda katarak penurunan ketajaman penglihatan
• pandangan kabur, dll
b. Gangguan peersepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan :
• menurunnyaketajaman penglihatan
• perubahan respon Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kehilangan vitreus, perdarahan intraokuler, peningkatan TIO biasanya terhadap rangsang.
c. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif, yang ditandai dengan :
• pertanyaan/pernyataan salah konsepsi
• tak akurat mengikuti instruksi
• terjadi komplikasi yang dapat dicegah.
2.3 Intervensi
a. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kehilangan vitreus, perdarahan intraokuler, peningkatan TIO
Tujuan : Menyatakan pemahaman terhadap faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
Kriteria hasil :
• Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk melindungi diri dari cedera.
• Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
Intervensi :
• Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, pembatasan aktifitas, penampilan, balutan mata.
• Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan.
• Batasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok.
• Ambulasi dengan bantuan : berikan kamar mandi khusus bila sembuh dari anestesi.
• Dorong nafas dalam, batuk untuk menjaga kebersihan paru.
• Anjurkan menggunakan tehnik manajemen stress.
• Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.
• Minta klien membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri tajam tiba-tiba, Selidiki kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan. Observasi hifema dengan senter sesuai indikasi.
• Observasi pembengkakan lika, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah pir.
• Berikan obat sesuai indikasi antiemetik, Asetolamid, sikloplegis, analgesik.
b. Gangguan peersepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi.
Tujuan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
Kriteria Hasil :
• Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
• Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi :
• Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.
• Orientasikan klien tehadap lingkungan
• Observasi tanda-tanda disorientasi.
• Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dengan menyentuh.
• Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata.
• Ingatkan klien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar kurang lebih 25 persen, pelihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada.
• Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan/posisi yang tidak dioperasi.
c. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif, yang ditandai dengan :
• pertanyaan/pernyataan salah konsep
• tak akurat mengikuti instruksi
• terjadi komplikasi yang dapat dicegah.
Tujuan : Klien menunjukkan pemhaman tentang kondisi, proses penyakit dan pengobatan.
Kriteria Hasil : Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.
Intervensi :
• Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur, lensa.
• Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin, beritahu untuk melaporkan - penglihatan berawan.
• Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas.
• Diskusikan kemungkinan efek/interaksi antar obat mata dan masalah medis klien.
• Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi, membongkok pada panggul, dll.
• Dorong aktifitas pengalihan perhatian.
• Anjurkan klien memeriksa ke dokter tentang aktifitas seksual, tentukan kebutuhan tidur menggunakan kacamata pelindung.
• Anjurkan klien tidur terlentang.
• Dorong pemasukkan cairan adekuat.
• Identifikasi tanda/gejala memerlukan upaya evaluasi medis, misal : nyeri tiba-tiba.
2.4 Implementasi
• Mendiskusikan apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, Membatasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok.
• Mendorong nafas dalam, batuk untuk menjaga kebersihan paru.
• Menganjurkan menggunakan tehnik manajemen stress.
• Mempertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.
• Meminta klien membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri tajam tiba-tiba, Selidiki kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan. Observasi hifema dengan senter sesuai indikasi.
• Mengobservasi pembengkakan lika, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah pir.
• Memberikan obat sesuai indikasi antiemetik, Asetolamid, sikloplegis, analgesik.
• pembatasan aktifitas, penampilan, balutan mata.
• Memberi klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan.
2.5 Evaluasi
• Balutan mata sudah bisa di lepas
• Nyeri berkurang paska operasi
• Sudah bisa melakukan berbagai aktivitas-aktivitas yang tidak terlalu sulit
• Tidak terjadi pembengkakan paska operasi
• Penglihatan terhadap suatu objek benda telah mulai membaik
• Perlahan-lahan tidak terjadi lagi kegelisahan yang berlebihan terhadap klien
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat air terjun.Jenis katarak yang paling sering ditemukan adalah katarak senilis dan katarak senilis ini merupakan proses degeneratif (kemunduran ). Perubahan yang terjadi bersamaan dengan presbiopi, tetapi disamping itu juga menjadi kuning warnanya dan keruh, yang akan mengganggu pembiasan cahaya.Walaupun disebut katarak senilis tetapi perubahan tadi dapat terjadi pada umur pertengahan, pada umur 70 tahun sebagian individu telah mengalami perubahan lensa walau mungkin hanya menyebabkan sedikit gangguan penglihatan.

