Rabu, 26 Oktober 2011

kddk_body aligment

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Body alignment adalah susunan geometric bagian-bagian tubuh dalam hubungannya dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Body alignmen yang baik akan meningkatkan keseimbangan yang optimal dan fungsi tubuh yang maksimal, dalam posisi berdiri, duduk, maupun tidur. Body aligment yang baik,meliputi keseimbangan pada persendian otot, tendon, serta ligamen.
Body Alignment yang baik dapat meningkatkan fungsi tangan yang baik,
mengurangi jumlah energi yang digunakan untuk mempertahankan keseimbangan, mengurangi kelelahan, memperluas ekspansi paru,meningkatkan sirkulasi renal dan fungsi gastrointestinal.Body alignment yang buruk dapat mengurangi penampilan individu dan mempengaruhi kesehatan yang dapat mengarah pada gangguan.
Perawat merupakan role model yang penting dalam mengajarkan kebiasaan yang sehat. Sehingga perlu pembahasan lebih mendalam lagi tentang body alignment bagi seorang perawat.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa pengertian dari body aligment?
2. Apa saja prinsip dari body aligment?
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi body alignment?
4. Bagaimana pengaturan gerakan body aligment?
5. Apa saja kelainan dari body alignment?
6. Bagimana proses Asuhan Keperawatan yang diberikan pada klien dengan kelainan body alignment?


C. Tujuan
1. .Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang pengertian, konsep, prinsip, serta macam-macam kelainan body alignment.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk menentukan Asuhan Keperawatan Klien dengan kelainan body alignment.
b. Dapat memberikan pendidikan kesehatan dalam menjaga body alignmen


BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian

Postur tubuh merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh yang berhubungan dengan bagian tubuh lain. Bagian yang dipelajari dari postur tubuh adalah persendian, tendon, ligamen, dan otot. Apabila keempat bagian tersc:but digunakan dengan benar dan terjadi keseimbangan, maka dapat menjadikan fungsi tubuh maksimal, scperti dalam posisi duduk, berdiri dan berbaring yang benar.(....)
Postur tubuh seseorang adalah salah satu hal yang harus dikaji untuk melihat;status kesehatan,fisikal fitness,daya tarik seseorang.
Postur tubuh dapat menunjukkan;perasaan hati,harga diri,kepribadian.(....)

B. Prinsip Body Alignment
Prinsip body alignment adalah sebagai berikut:
a. Keseimbangan dapat dipertahankan jika garis gravitasi (line of gravity -garis imaginer vertikal) mclewati pusat gravitasi (center of gravity-titik yang berada di pertengahan garis tubuh) dan dasar tumpuan (base of support-posisi menyangga atau menopang tubuh).
b. The base of support lebih luas dan pusat gravity lebih rendah kestabilan dan keseimbangan lebih besar.
c. Jika line gravity berada diluar pusat dari base of support, energi lebih banyak digunakan untuk mempertahankan keseimbangan.
d. The base of support yang luas dan bagian-bagian dari body alignment baik akan menghemat energi dan mencegah kelelahan otot.
e. Perubaan dalam posisi tubuh membantu mencegah ketidaknyamanan otot-otot.
f. Body alignment yang jelek dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa nyeri kelelahan otot dan kontraktur.
g. Karena struktur enatomi individu berbeda maka intervensi keperawatan harus secara individual dan sesuai dengan kebutuhan individu tersebut.
h. Memperkuat otot-otot yang lemah, membantu mencegah kekakuan otot dan ligament ketika body alignment jelek baik secara temporal maupun penggunaan yang kurang hati-hati.


C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Body Alignment
1. Gravity
Keseimbangan adalah suatu equilibrium yang dipertahankan oleh adanya kekuatan yang saling berlawanan dan merupakan prinsip pertama yang harus diperhatikan dalam melakukan mekanika tubuh dengan benar yaitu memandang grafitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. Seseorang dapat mempertahankan keseimbangan selama garis grafitasi (garis khayal vertical yang melalui pusat grafitasi) melalui pusat grafitasi (titik pusat dari seluruh massa tubuh) dan landasan (tempat berpijaknya suatu obyek).
a. Pusat gravitasi (Center of Gravity-COG)
Pusat gravitasi terdapat pada semua obyek, pada benda, pusat gravitasi terletak tepat di tengah benda tersebut. Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan mendistribusikan massa tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang. Pada manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat. Pusat gravitasi manusia ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang diantara depan dan belakang vertebra sakrum ke dua.
Derajat stabilitas tubuh dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu : ketinggian dari titik pusat gravitasi dengan bidang tumpu, ukuran bidang tumpu, lokasi garis gravitasi dengan bidang tumpu, serta berat badan.
b. Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG)
Garis gravitasi merupakan garis imajiner yang berada vertikal melalui pusat gravitasi dengan pusat bumi. Hubungan antara garis gravitasi, pusat gravitasi dengan bidang tumpu adalah menentukan derajat stabilitas tubuh.
c. Bidang tumpu (Base of Support-BOS)
Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan dengan permukaan tumpuan. Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu, tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya area bidang tumpu. Semakin besar bidang tumpu, semakin tinggi stabilitas. Misalnya berdiri dengan kedua kaki akan lebih stabil dibanding berdiri dengan satu kaki. Semakin dekat bidang tumpu dengan pusat gravitasi, maka stabilitas tubuh makin tinggi.


2. Postural reflek dan Apposing Muscles Group.
Merupakan aksi dari otot postural (ekstensor) yang terus menerus menahan seseorang pada posisi tegak melawan grafitasi bumi.
Respon otot-otot postural yang sinergis mengarah pada waktu dan jarak dari aktivitas kelompok otot yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan kontrol postur. Beberapa kelompok otot baik pada ekstremitas atas maupun bawah berfungsi mempertahankan postur saat berdiri tegak serta mengatur keseimbangan tubuh dalam berbagai gerakan. Keseimbangan pada tubuh dalam berbagai posisi hanya akan dimungkinkan jika respon dari otot-otot postural bekerja secara sinergi sebagai reaksi dari perubahan posisi, titik tumpu, gaya gravitasi, dan aligment tubuh.
Kerja otot yang sinergi berarti bahwa adanya respon yang tepat (kecepatan dan kekuatan) suatu otot terhadap otot yang lainnya dalam melakukan fungsi gerak tertentu.
Jenis dari postural reflex :
a. Labryn sense
Organ sensor yang terdapat dalam organ telinga bagian dalam
b. Visual /optic reflek
Sensasi visual membantu seseorang dalam mendapatkan kesadaran mengenai tata ruang dan hubungan antara satu subyek dengan lingkungannya.
c. Proprioceptor /kinestetik sense
Ini sering disebut sebagai indera keenam .
d. Ekstensor atau anti grafitasi reflex
Yang termasuk otot-otot ekstensor diantaranya otot-otot pada ekstremitas bawah,otot-otot abdomal,otot-otot adductor pada scapula dan otot-otot kaki bawah.
e. Plantar reflex
Tekanan melawan telapak kaki oleh permukaan tanah akan menimbulkan reflex kontraksi otot-otot ekstensor dari otot-otot kaki bagian bawah.
f. Perubahan posisi tubuh
Beberapa posisi tubuh dalam aktifitas tertentu bear ataupun salah, jika berlangsung lama akan menyebabkan kerusakan syaraf-syaraf superfasialis, kerusakan pembuluh darah serta kontraktur.


g. Perubahan individual dalam struktur anatomi
Setiap orang mempunyai anatomi yang berbeda , ini akan membawa pengaruh pada postur tubuh seseorang , meskipun hanya sedikit.

Adapun faktor lain yang mempengaruhi postur tubuh,adalah:
1. Status Kesehatan.
Perubahan status keschatan dapat mc;nimbulkan keadaan yang tiidak optimal terdapat organ atau bagian tubuh yang mengalami kelelahan atau kelemahan sehingga dapat memengaruhi pembentukan postur tubuh.
2. Nutrisi.
Nutrisi merupakan bahan untuk menghasilkan yang digunakan dalam membantu proses pengaturan keseimbangan organ, otot, tendon, ligamen dan persendian. Apabila status nutrisi kurang, kebutuhan energi pada organ tersebut akan kurang sehingga dapat proses keseimbangan.
3. Emosi.
Emosi dapat menyebabkan kurangnya kendali dalam menjaga kescimbangan tubuh. Hal tersebut dapat mcmcngaruhi proses koordinasi pada otot, ligamen, sendi dan tulang.
4. Gaya Hidup
Perilaku gaya hidup dapat membuat seseorang jadi lebih baik atau bahkan sebaliknya menjadi buruk. Seseorang yang memiliki gaya hidup yang tidak sehat misalnya selalu menggunakan alat bantu dalam melakukan kegiatan sehari-hari, dapat mengalami ketergantungan sehingga postur tubuh tidak berkcmbang dengan baik.
5. Perubahan perilaku dan nilai seseorang.
Sebagai contoh, perilaku dalam membuang sampah di sembarang tempat dapat memengaruhi proses pembcntukan postur tubuh orang lain yang berupaya untuk selalu bersih dari sampah.
6. Hidrasi pasien





D. Pengaturan gerakan
Koordinasi gerakan tubuh merupakan fungsi yang terintregasi dari system skeletal otot skeleton dan system syaraf. Karena ketika system ini berhubungan erat dengan mekanisme pendukung tubuh, system ini dapat dianggap sebagai 1 unit fungsional.
1. System skeletal
Skelet adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari 4 tipe tulang: panjang, pendek, pipih dan irregular. Skelet tempat melekatnya otot dan ligament
2. Karakteristik tulang
Karakteristik tulang meliputi kekokohan kekuatan dan elastisitas.
3. Sendi
Sendi adalah hubungan diantara tulang. Setiap sendi diklasifikasikan sesuai dengan struktur dan tingakat mobilisasinya. Ada 4 klasifikasi sendi: sinostotik, kartilagonus, fibrosa, dan synovial.
4. Ligament
Ligament adalah ikatan jaringan fibrosa yg berwarna putih mengkilat fleksibel mengikat sendi menjadi satu dan menghubungkan tulang dengan vertilago. Bersifat elastic sehingga membantu fleksibelitas sendi dan mendukung sendi dan memiliki fungsi protektif.
5. Tendon
Tendon adalah jaringan ikat fibrosa yang berwarna putih mengkilat yg menghubungkan otot dengan tulang. Tendon bersifat kuat fleksibel dan tidak elastic serta memmpunyai ketebelan dan panjang yang bervariasi.
6. Kartilago
Kartilago adl jaringan penyambung yang tidak mempunyai vaskuler yang terletak terutama di sendi dan torak trakea laring hidung dan telinga.

E. Kelainan Postur
Kelainan postur yang didapat atau congenital mempengaruhi efisiensi system moskuloskeletal, seperti kesejajaran tubuh keseimbangan dan penampilan.
Macam2 abnormal:
1. Tortikolis
 Diskripsi: mencondongkan kepala ke sisi yang sakit, dimana otot sternokleidomastoideus berkontraksi.
 Penyebab: kondisi congenital.
 Penatalaksanaan: operasi, pemanasan, topangan, atau imobilisasi berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan.
2. Lordosis
 Diskripsi: kurva anterior pada spinal lumbal yang melengkung berlebihan.
 Penyebab: kondisi congenital, kehamilan.
 Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal berdasarkan penyebab.
3. Kifosis
 Diskripsi: peningkatan kelengkungan pada spinal torakal atau suatu keadaan kelainan pada tulang belakang dimana terjadi fleksi yang berlebihan pada tulang lumbal.
 Penyebab: kondisi congenital, penyakit tulang atau ricket tuberkolosis spinal.
 Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal, tidur tanpa bantal, menggunakan papan tempat tidur, memakai jaket, penggabungan spinal (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan)
4. Kifolordosis
 Diskripsi: kombinasi dari kifosis dan lordosis.
 Penyebab: kondisi congenital.
 Penatalaksanaan: sama dengan metode yang digunakan untuk kifosis dan lordosis berdasarkan penyebab.
5. Skoliosis
 Diskripsi: kurvatura spinal lateral, tinggi pinggul dan bahu tidak sama.
 Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, paralisis spastic, panjang kaki tidak sama
 Penatalaksanaan: immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
6. Kifoskoliosis
 Diskripsi: tidak normalnya kurva spinal anteroposteriol dan lateral.
 Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, kor pulmonal.
 Penatalaksanaan: immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).




7. Dysplasia Pinggul Kongenital
 Diskripsi: ketidakstabilan pinggul dengan keterbatasan abduksi pinggul, dan kadang-kadang kontraktur adduksi (kaput vemur tidak bersambung dengan assetatbulum karena abnormal kedangkalan assetatbulum).
 Penyebab: kondisi congenital (biasanya dengan kelahiran sungsang).
 Penatalaksanaan: mempertahankan abduksi paha yang terus menerus sehingga kaput vemur menekan ke bagian tengah assetatbulum, beban abduksi, gips, pembedahan.
8. Knock-knee (genu varum)
 Diskripsi: kurva kaki yang masuk ke dalam sehingga lutut rapat jika seseorang berjalan.
 Penyebab: kondisi congenital, penyakit tulang atau ricket.
 Penatalaksanaan: knee braces, operasi jika tidak dapat diperbaiki oleh pertumbuhan

Body Alignment yang diterapkan dalam keperawatan adalah :
1) Membantu pasien duduk dan berdiri:
• Pengertian
Yang dimaksud dengan membantu pasien duduk dan berdiri adalah membantu mengubah posisi pasien dari posisi tidur ke posisi duduk dan kemudian berdiri.
• Tujuan
Tujuan mendudukan dan menidurkan pasien adalah :
 Mobilisasi
 Memberikan rasa aman kepada pasien (menjaga supaya pasien jangan jatuh).
• Persiapan alat-alat
Alat-alat yang harus disiapkan melakukan perasat ini adalah : Sandal.
• Cara bekerja
1 Memberi tahu pasien
2 Mencuci tangan
3 Berdiri disamping kanan pasien.
4 Memasukkan tangan kanan melalui ketiak kanan pasien sampai ke tulang belikat, sedangkan tangan kanan pasien memegang bahu kanan perawat dari arah belakang.
5 Menyisipkan tangan kiri di bawah kuduk pasien dan tangan pasien saling berpegangan di atas bahu perawat.
6 Mengangkat badan pasien kemudian didudukkan
7 Kemudian kedua kaki pasien digeserkan ke tepi tempat tidur, bila pasien tidak bisa menggeser kakinya, maka perawat dengan tangan kanan mengangkat dan mengeser kaki pasien.
8 Pasien duduk di pinggir tempat tidur dengan kedua kakinya terjuntai di sisi tempat tidur, dianjurkan mengayun-ayunkan kedua kakinya.
9 Perawat memeriksa nadi dan menanyakan kepada pasien pusing atau tidak.
10 Kemudian perawat berdiri di depan pasien, kedua tangannya memegang pinggang pasien dan kedua tangan pasien memegang pundak kanan dan kiri perawat.
Menurunkan pasien perlahan-lahan dari tempat tidur, berdiri sebentar untuk memperoleh keseimbangan yang baik lalu berjalan.
11 Memapah pasien ada dua cara, yaitu :
 Perawat dan pasien berjalan berdampingan, perawat di sebelah kiri pasien dengan tangan kanan perawat menahan pasien dari belakang, tangan kiri pasien diletakkan di bahu kiri perawat dipegang oleh tangan kiri perawat.
 Perawat dan pasien berhadapan, dan perawat berjalan mundur. Kedua tangan perawat di pinggang kanan dan kiri pasien, kedua tangan pasien berada di bahu perawat kiri dan kanan.
12 Setelah cukup berjalan, kembalikan pasien ke tempat tidur .
13 Memeriksa nadi dan menanyakan keadaan umum, merasa pusing atau tidak..
14 Merapikan pasien.
15 Mencuci tangan.
Perhatian :
 Bereskan tempat tidur secepat mungkin.
 Apabila saat berjalan merasa pusing, segera kembali ke tempat tidur.
 Selama melakukan aktivitas perhatikan keadaan umum pasien.
2) Mengatur posisi semi fowler
• Pengertian
Yang dimaksud dengan sikap semi fowler adalah sikap dalam posisi setengah duduk.
• Tujuan
Tujuan menempatkan pasien dalam posisi semi fowler adalah :
 Mobilisasi
 memberikan perasaan lega kepada pasien yang sesak napas
 Memudahkan perawatan, misalnya, member makan
• Pelaksanaan
Sikap semi fowler dilaksanakan pada :
 Pasien yang sesak napas
 Pasien pasca operasi :
 Struma
 Hidung
 Torak
• Persiapan alat-alat
Alat-alat yang harus disiapkan untuk melaksanakan sikap semi fowler :
1 Bantal 5-6 buah
2 Bantal kecil
3 Guling
4 Sandaran punggung
5 Sarung sandaran punggung
6 Bila ada tempat tidur yang dapat dinaikkan bagian kepalanya (orthopaedic bed)
• Cara bekerja
Cara melaksanakan posisi tidur semi fowler adalah sebagai berikut :
1. Memberi tahu pasien
2. Mencuci tangan.
3. Mengangkat dan mendudukkan pasien, Memasang sandaran punggung, mengatur bantal pada sandaran, bila memakai tempat tidur orthopaedic, naikkan bagian kepalanya.
4. Membaringkan pasien pada sandaran
5. Meletakkan guling di bawah lipatan lutut agar tidak merosot.
6. Meletakkan kedua bantal di atas bantal.
7. Merapikan tempat tidur
8. Mencuci tangan.
Perhatian : Perhatikan keadaan umum pasien selama bekerja.
3) Mengatur posisi dorsal recumbent
• Pengertian
Yang di maksud dengan sikap dorsal recumbent adalah sikap pasien dalam posisi telentang dengan kedua tungkai ditekuk, sedikit direnggangkan dan kedua tapak kaki menapak pada kasur.
• Tujuan
Tujuan menempatkan pasien dalam posisi ini adalah :
 Memudahkan dalam pemeriksaan, misalnya, Rectal touche, vaginal touché, palpasi perut.
 Memudahkan pelaksanaan perawatan, misalnya, pemasangan kateter, irigasi vagina, partus.
• Pelaksanaan
Sikap ini dilaksanakan pada :
 Pemeriksaan genekologi
 Pengobatan uretra dan kandung kemih
• Persiapan alat-alat
Alat-alat yang dibutuhkan sesuai dengan keperluan.
• Cara bekerja
Cara melaksanakan perasat ini adalah :
1. Memberi tahu pasien
2. Mencuci tangan
3. Pasien menekuk kedua tungkai, direnggangkan sedikit dan menapakkan kedua telapak kaki pada kasur
4. Merapikan pasien.
5. Mencuci tangan
Perhatian : Perhatikan keadaan umum pasien selama bekerja.


4) Mengatur posisi lithotomy
• Pengertian
Yang dimaksud dengan posisi tidur lithotomy adalah posisi tidur pasien dalam posisi telentang dengan kedua tungkai diangkat, lutut ditekuk kearah dada, tungkai bawah ditopang oleh dua orang perawat; bila ada meja genekologi tungkai bawah diletakkan pada penahan kaki yang tersedia.
• Tujuan
Tujuan menempatkan pasien dalam posisi ini adalah :
 Memudahkan pemeriksaan daerah rongga panggul, misalnya, touché, Cystoscopy, Rectoscopy.
 Memudahkan pelaksanaan perasat, misalnya, menolong partus, operasi haemorrhoid, pemasangan IUD, Curettage.
• Pelaksanaan
Posisi tidur lithotomy ini dilaksanakan pada :
 Pemeriksaan genekologi/urologi
 Pengobatan uretra dan kandung kemih
 Pelaksanaan perasat kebidanan
 Operasi haemorrhoid
 Waktu melahirkan
• Cara bekerja
Cara mengerjakan posisi tidur lithotomy adalah :
1. Memberi tahu pasien
2. Mencuci tangan
3. Pasien meletakkan kedua telapak tangan di bawah kepala
4. Mengangkat kedua tungkai, menekuk kearah dada, kedua tungkai bawah di topang oleh dua orang perawat; bila ada meja genekologi kedua tungkai bawah diletakkan pada penahan kaki
5. Merapikan setelah selesai pemeriksaan atau pelaksanaan perasat.
6. Mencuci tangan.
Perhatian:
a. Pada pelaksanaan perasat tertentu, bantal diangkat, misalnya pada operasi, pemasangan IUD
b. Perhatikan keadaan umum pasien.
5) Mengatur posisi trendelenburg
• Pengertian
Yang dimaksud dengan posisi tidur trendelenburg adalah posisi tidur pasien dalam posisi bagian kepala lebih rendah dari pada bagian kaki.
• Tujuan
Tujuan menempatkan pasien dalam posisi trendelenburg adalah :
 Agar darah lebih banyak mengalir ke daerah kepala
 Untuk memudahkan operasi di bagian perut.
 Untuk memudahkan perawatan dan pemeriksaan
• Pelaksanaan
Posisi tidur trendelenburg dilaksanakan pada :
 Pasien dalam keadaan syok.
 Pasien dengan tekanan darah rendah
 Pembedahan di daerah perut
 Pemeriksaan tertentu, misalnya, bronchoscopy.
• Persiapan alat-alat
Alat-alat yang disiapkan untuk melaksanakan posisi tidur ini adalah :
 Dua potong balok yang sama tinggi untuk meninggikan bagian kaki tempat tidur atau ada tempat tidur yang bias dinaikkan bagian kakinya.
• Cara bekerja
Cara melaksanakan posisi tidur trendelenburg ini adalah sebagai berikut :
1. Memberi tahu pasien
2. Mencuci tangan
3. Mengangkat bantal
4. Memasang balok pada kedua kaki tempat tidur, di bagian kaki pasien atau menaikkan pada bagian kaki bila ada tempat tidur yang bisa diatur.
5. Merapikan pasien
6. Mencuci tangan.
Perhatian : Perhatikan keadaan umum pasien selama bekerja
6) Mengatur posisi sim’s
• Pengertian
Yang dimaksud dengan posisi tidur sim’s adalah posisi tidur dalam posisi setengah telungkup
• Tujuan
 Cairan pasca operasi tonsil dapat mengalir keluar dengan lancar
 Memudahkan rectal touche.
 Untuk pelaksanaan huknah tinggi
• Cara bekerja
Cara mengerjakan posisi tidur sim’s adalah sebagai berikut :
1. Memberi tahu pasien
2. Mencuci tangan
3. Mengangkat bantal
4. Letakkan kedua tangan pasien di atas dada, kedua tungkai di tekuk.
5. Perawat memasukkan kedua lengannya ke bawah bahu dan pangkal paha.
6. Mengangkat dengan perlahan badan pasien, dan ditarik kearah perawat, kemudian dimiringkan membelakangi perawat sampai dada menyentuh kasur, lengan di sisi yang tertindih diluruskan sejajar dengan punggung
7. Merapikan pasien
8. Mencuci tangan
Perhatian :
 Perhatikan keadaan umum pasien selama melakukan tindakan
 Pada rectal touché hanya bagian badan yang diperiksa yang dibuka pakaiannya.
7) Posisi lateral (side lying)

Yaitu seorang tidur diatas salah satu sisi tubuh, dengan membentuk fleksi pada pinggul dan lutut bagian atas dan meletakkannya lebih depan dari bagian tubuh yang lain. Posisi ini sangat baik untuk istirahat dan tidur serta membantu menghilangkan tekanan-tekanan pada sacrum dan tumit. Bagi pasien yang mengalami kelumpuhan pada salah satu sisi bagian tubuh akan merasa nyaman pada posisi ini dengan berbaring pada sisi yang normal.






F. Proses Keperawatan
 PENGKAJIAN

• Untuk melakukan pengkajian body alignment lakukan inspeksi terhadap pada pasien pada saat berdiri,duduk maupun berbaring. Perawat juga harus mempertimbangkan factor perkembangan dan faktor lain yang mempengaruhi body alignment.Mereview catatan kesehatan pasien untuk menentukan masalah keperawatan dan medis baik yang lalu maupun yang sekarang.
• Tujuan dari pengkajian Body Alignment adalah:
1.Menentukan perubahan normal akibat dari tumbang
2. Mengidentifikasi postur tubuh yang jelek.
3. Mempelajari kebutuhan untuk mempertahankan postur tubu ang baik.
4. Mengidentifikasi kelemahan otot dan kerusakan motorik lainnya.
• Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji antara lain :
1. Posisi berdiri
Lakukan inspeksi melalui sudut pandang secara : Anterior,Lateral dan posterior. Pasien dalam posisi berdiri dengan kepala tegak dan mata lurus kedepan serta bahu dan pinggul harus lurus dan sejajar, apabila posisi tidak sesuai dengan posisi berdiri yang benar maka dapat diidentifikasikan bahwa ada gangguan pada otot dan tulang pasien.
2. Posisi duduk
Pada saat keadaan ini normalnya kepala dan dada akan akan memiliki keadaan yang sama pada saat posisi berdiri yaitu kepala pasien harus tegak lurus dengan leher dan verterba kolumna telapak kaki lurus berpijak pada lantai. Pasien yang dalam keadaan abnormal akan mengalami kelemahan otot atau pralis otot serta adanya sensasi (kerusakan saraf)
3. Posisi berbaring
Letakan pasien pada posisi lateral semua bantal dan penyokong posisi dipindahkan dari tempat tidur, kemudian tubuh ditopang dengan kasur yang cukup dan vertebra harus lurus dengan alas yang ada . apabila dijumpai kelainan pada pasien, maka terdapat penurunan sensasi atau gangguan sirkulasi serta adanya kelemahan.



4. Cara berjalan
Dikaji untuk mengetahui mobilitas dan kemungkinan resiko cedera akibat dari terjatuh, pasien diminta berjalan sepanjang 10 langkah kemudian perawat memperhatikan hal-hal berikut ini :
a. Kepala tegak, pandangan lurus kedepan, punggung tegak.
b. Tumit menyentuh tanah terlebih dahulu sebelum jari-jari kaki.
c. Langkah lembut, terkoordinasi dan ritmik
d. Mudah untuk memulai dan mengakhiri berjalan
e. Jumlah langkah per menit (pace) 70-100 X per menit, kecuali pada orang tua mungkin 40 X per menit.


 PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN
1. Pertahankan posisi tubuh yang tepat dengan pengaturan posisi yang tepat.
2. Perbaiki postur tubuh pada tingkat optimal dengan melatih berdiri, duduk dan berbaring secara optimal.
3. Kurangi cedera akibat posisi tubuh yang tidak tepat dengan membantu pasien melakukan aktifitas sehari-hari
4. Kurangi beban otot dengan cara meletakan alat dekat dengan pasien dan bantu pasien pada saat melakukan kegiatan yang bersifat berat.
5. Cegah komplikasi akibat postur tubuh yang tidak tepat.

 EVALUASI
Evaluasi yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan postur tubuh adalah tidak terjadi perubahan atau kesalahan dalam postur tubuh dan pasien mampu melaksanakan aktifitas dengan mudah serta tidak merasakan kelemahan.

 DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko cedera b.d standing alignment dan sitting alignment yang jelek
2. Ganguan mobilitas fisik b.d kontraktur
3. Nyeri b.d cedera fisik.


BAB III
PENUTUP


Dari makalah tersebut, dapat disimpulkan bahwa body alignment adalah postur atau sikap tubuh.Tubuh dapat membentuk banyak postur yang memungkinkan tubuh dalam posisi yang nyaman selama mungkin.Postur tubuh yang baik dapat meningkatkan fungsi tangan dengan baik, mengurangi jumlah energi yang digunakan, mempertahankan keseimbangan, mengurangi kecelakaan, memperluas ekspansi paru, dan memingkatkan sirkulasi renal dan gastrointestinal.
Prinsip body alignment,intinya menjaga keseimbangan dari kemungkinan kelainan,yang disebakan karena beberapa faktor yang mempengaruhi,yaitu Gravity dan Postural reflek dan Apposing Muscles Group. Selain itu,faktor yang mempengaruhi antara lain:nutrisi,status kesehatan,emosi,gaya hidup,perubahan perilaku seseorang,hidrasi pasien.
Body alignment bisa terjadi ketidaknormalan, diantaranya adalah Tortikolis,Lordosis,Kifosis, Kifolordosis,Skoliosis ,Kifoskoliosi,Dysplasia Pinggung Kongenital dan Knock-knee (genu varum)

0 komentar:

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates